Merasa kondisi Lala perlu penanganan khusus dan tidak bisa dilakukan langsung saat itu juga, Lynx memutuskan mengobati Arkha terlebih dahulu.

Lynx berjongkok di samping Arkha yang masih terbaring tak sadarkan diri. Mata Lynx memancarkan cahaya redup yang tak kasat mata saat energi saktinya mengalir dari ujung jarinya, menembus lapisan pikiran Arkha yang terperangkap dalam kendali asing. Kekuatan halus namun kuat itu menelusuri jalur-jalur energi dalam pikiran Arkha, mengurai pengaruh manipulatif yang tertanam.

Perlahan, napas Arkha teratur, kelopak matanya bergetar sebelum terbuka sepenuhnya. Wajahnya bingung saat menatap orang-orang di sekitarnya. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara parau. Dia merasa bingung melihat banyak orang mengelilinginya, terutama matanya menatap sosok wanita yang di kenalnya dengan baik karena dia pernah berusaha menyelidiknya, Ling Mei.

Selain itu, dia merasa gembira karena kepala sukunya sudah kembali dengan selamat.

Lynx melepaskan sentuhannya dan bangkit berdiri. "Baguslah kamu sudah sadar. Kamu berada dalam kendali seseorang. Apakah kamu ingat apa yang telah terjadi kepadamu ?"

Sebelum Arkha sempat bertanya, orang-orang disekitarnya sudah bertanya terlebih dahulu sehingga Arkha menunda niatnya menanyakan alasan Ling Mei berada di tempat tersebut.

Arkha mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Lynx, berusaha mengumpulkan ingatannya. "Aku tidak sadarkan diri? Aku... aku ingat saat itu sedang berada di pasar bersama Kael dan Narendra. Lalu kami berpisah, dan aku ingin membeli senjata untuk latihan. Kemudian... seorang wanita menabrakku. Setelah itu, semuanya buram. Aku tidak ingat apa-apa lagi sampai sekarang."

Kael yang berdiri tak jauh segera menggelengkan kepalanya. Rahangnya mengeras, dan matanya menyipit penuh kebencian. "Arkha, kamu menjadi korban dari seseorang yang berasal dari duniaku. Dia memanfaatkan dirimu."

"Memanfaatkan? Apa maksudmu?"Arkha menatap Kael dengan tatapan kebingungan.

"Apakah kamu tidak mengingat apa yang terjadi kepadamu setelah itu?" tanya Karim dengan nada khawatir.

Arkha menggelengkan kepalanya yang masih terasa berat."Apa yang terjadi dan sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"

Jelita mendekat dan menjawab, "kamu tidak sadarkan diri sekitar dua hari. Kael dan Narendra menemukanmu terluka dijalan. Kami sangat mencemaskanmu. Untungnya kepala suku datang dan menolongmu."

Jelita berkata dengan nada serius dan tulus. walaupun dia memiliki kemampuan untuk mengobati yang diajarkan oleh nenek drona, namun kejadian yang menimpa arkha bukan hal yang bisa dia tangani."

Tiba-tiba tanpa peringatan, Lynx mengeluarkan pukulan jarak jauh ke arah dinding di luar kamar.

DUAR!

Dinding yang terkena hantaman langsung berlubang rapi tanpa debu dengan bentuk telapak tangan Lynx tercetak jelas menembus dinding.

"Lynx apa yang terjadi?" Tanya Lala dengan panik. Mereka semua masa kaget dengan perbuatan yang dilakukan Lynx secara tiba-tiba.

"Maafkan aku! Aku hanya merasa seseorang sedang mengamati kita dan ada aura membunuh sekilas kurasakan.

"Apa kamu serius sayang? Aku tidak merasakan apapun." Kata Leena dengan ekspresi tegang. Seseorang yang mampu bersembunyi didekat mereka tanpa disadari merupakan bahaya yang sangat besar.

Lynx menghela napas."Kurasa hanya perasaanku saja. Sebaiknya kita semua keluar dan membiarkan Arkha kembali beristirahat."

"Kepala suku benar, sebaiknya kalian diluar. Aku akan menemani Arkha disini." Karim mengajukan diri. Dia juga ingin memberi tahukan kepada Arkha mengenai yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri.

Segera mereka semua keluar. Lynx yang melewati lubang bekas pukulannya hanya menghela napas panjang."Kurasa aku terlalu lelah karena banyak hal yang kupikirkan." batinnya. Lalu menatap Leena dengan pikiran mesum melintas di otaknya.

Sementara itu, sebelum Lynx dan yang lainnya keluar dari kamar, sosok Kanaya terlihat merangkak dengan gemetar sambil berusaha menenangkan dirinya.

"Aku melakukan kesalahan fatal yang hampir merenggut nyawaku. Tanpa sadar, aku merasa marah melihat pemuda yang di panggil Lynx tersebut mampu menyadarkan pria itu. Dia bukan hanya bisa menemukan partikel nano di tubuh Lala, bahkan dia bisa menyembuhkan pengaruh hipnotisku dengan mudah. Aku harus mewaspadainya kelak." Batin Kanaya.

Beberapa saat sebelumnya, saat melihat Lynx menyembuhkan Arkha, Kanaya merasa sangat marah. Kemampuan yang dibanggakannya dapat dengan mudah di patahkan.

Namun, instingnya sebagai pembunuh bayaran mendadak merasakan bahaya. Secara reflek, tubuhnya berjongkok, dan kurang dari sedetik, hawa pukulan Lynx melewati atas kepalanya hanya berjarak beberapa sentimeter. Jika dia telat lagi sedikit, kepalanya akan hancur terkena pukulan tersebut.

Kanaya segera pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya. Sebagai mutan, kemampuan utama yang diandalkannya adalah kemampuan yang dapat menyembunyikan seluruh sosoknya dengan sempurna. Sebuah kemampuan yang sangat luar biasa, bahkan Lynx tidak mampu menyadarinya.

Itu sebabnya, pemerintah memasukkannya ke penjara level tujuh. Sebuah penjara khusus untuk penjahat berbahaya. Dan khusus untuk penjahat paling berbahaya, akan diletakkan di penjara di level sembilan.

Kanaya gembira karena rencana yang sudah disusunnya berjalan dengan lancar, mangsanya sudah ditandai dan dia akan menjalankan langkah berikutnya. Kanaya menikmati sensasi berburu mangsanya, dimana mangsanya dikelilingi oleh manusia-manusia kuat.

Setelah berhasil keluar dengan aman dari pengintaiannya, Kanaya kembali ke tempat persembunyiannya, sebuah penginapan mewah paling terbesar di kota itu, Paviliun Bulan Perak. Tempat yang sama dengan tempat menginap Lynx dan Leena.

Di dalam ruangan yang temaram, cahaya biru redup memancar dari perangkat logam di tangan Kanaya. Cahaya berkedip cepat, menampilkan gambar holografis titik merah berdenyut di lengan kirinya. Wajah Kanaya memancarkan senyum puas. "Pelacak nano berhasil ditanam," gumamnya, mata tajam menatap layar hologram. “Tidak peduli seberapa jauh kau lari, aku akan menemukannya."

Kanaya mengingat kembali kejadian saat pertama kali tiba di dunia ini. Dia teringat keterkejutannya ketika menyaksikan kemampuan penduduk asli dunia ini. Seolah memasuki dunia dongeng, dia menyaksikan hal-hal yang seharusnya hanya ada dalam cerita fiksi, orang-orang melayang di udara diatas pedang, ledakan energi yang menggetarkan bumi, dan makhluk aneh yang tak mungkin ada dalam dunia logika.

Kanaya merasakan Kekuatan supranatural penduduk dunia ini sangat mengesankan, mirip sihir dalam cerita rakyat, membuatnya sadar bahwa tempat ini bukan sekadar dimensi biasa seperti penduduk di dunianya, melainkan dunia dengan hukum-hukum yang berbeda.

Dia tiba tidak jauh dari lokasi satelit menangkap sinyal keberadaan alat dimensi profesor Milo. Namun, sesampainya di lokasi, targetnya sudah tidak ada. Rasa frustrasi menghantamnya, tetapi pengalaman sebagai prajurit bayaran membuat ketenangannya tetap terjaga.

Hari-hari berlalu dalam pengintaian yang penuh kewaspadaan. Perangkat deteksi dan alat pelacak dipasang diam-diam di berbagai tempat. Setiap bisikan informasi yang mengarah pada nama Lala dianalisis dengan cermat.

Kanaya juga sempat berhadapan dengan salah satu penduduk dunia ini. Awalnya, ia mengira pertempuran tidak akan sulit, dengan persenjataan modern dan kekuatan mutan yang dimilikinya. Laser berenergi tinggi berhasil menembus tubuh seorang penduduk yang mencoba menyerangnya, membuatnya roboh seketika.

Namun, kejutan datang ketika salah satu penduduk lain muncul dan dengan mudahnya menangkis tembakan laser hanya dengan mengayunkan tangan yang dibalut cahaya tebal. Senjata laser Kanaya bahkan tak mampu menembus perisai energi itu. Dengan cepat, ia melemparkan bom fragmen yang mencabik-cabik tubuh lawan.

Setelahnya, Kanaya menyadari bahaya yang mengintainya di dunia ini. Dari penyelidikannya, ia memahami bahwa para penghuni dunia ini yang memiliki kekuatan disebut dengan kultivator, makhluk yang mengolah energi alam yang disebut qi. Ada tingkatan kekuatan yang menentukan kemampuan mereka, dan semakin tinggi tingkatannya, semakin sulit mereka dibunuh. Kekuatan supranatural mereka tidak bisa dianggap remeh.

Setelah menyadari perbedaan besar kekuatan, Kanaya memilih untuk beradaptasi. Membatasi gerakan dan menyembunyikan kehadirannya, ia fokus pada misi utama, menemukan target bernama Milo dan Lala dan membawanya kembali ke dunianya. Saat itulah dia melihat seseorang yang dikenalnya,Kael.

Dia sudah mendapatkan informasi mengenai team pertama yang mengejar profesor Milo dan salah satunya adalah Kael, salah seorang anggota prajurit bayaran yang berhasil menangkapnya dalam misi sebelumnya dengan cara yang dianggapnya curang, dan orang itu juga pernah memukulnya. Kenangan pertempuran brutal itu membanjiri pikirannya. Rasa dendam bergejolak di dadanya, hampir mendorongnya untuk menyerang saat itu juga.

Namun, naluri bertahan hidup yang kuat membuatnya menahan diri, dia memutuskan untuk lebih menyelidiki keadaan terlebih dahulu dan menunggu mangsa utamanya. Dan keputusan yang diambilnya sangat tepat, Pria yang selalu bersama Kael, ternyata bukan hanya terlihat kuat, tetapi juga seoang kultivator yang lebih kuat daripada lawan yang pernah di ledakkannya menggunakan bom fragmen.

Saat mengintai Kael untuk menemukan Lala, pria disamping Kael pernah terlibat dalam pertempuran melawan seorang kultivator misterius. Pertarungan itu sengit, ledakan energi menghancurkan tanah dan menggetarkan udara. Kanaya menyadari bahwa orang asing yang bertarung bersama Kael terlalu berbahaya untuk dihadapi secara langsung. Strategi terbaik adalah menunggu mereka berpencar agar Kael bisa dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.

Dan, saat mengawasi mereka di pasar, matanya menangkap sesosok pria lain yang terpisah dari rombongan, Arkha. Insting profesionalnya segera menyadari kelemahan Arkha terhadap wanita sehingga dia bersandiwara dan berhasil menjebaknya dengan kekuatan hipnotisnya.

Kini, Kanaya memandangi titik merah pada layar hologramnya. Senyum jahatnya mengembang. "Kita lihat, Lala. Seberapa jauh kau bisa berlari sekarang?" Misinya semakin jelas. Lala akan tertangkap hidup-hidup. Dan jika segala sesuatunya berjalan lancar, ia mungkin bisa membawa pulang lebih banyak daripada sekadar target. Dunia kultivasi ini penuh kekuatan dan benda-benda yang menggoda, dan Kanaya berniat mendapatkannya.

